Kamis, 11 Agustus 2011

HUT Kemerdekaan RI ke 66. Menatap Wajah Kuyu.

Hampir satu tahun ini pencitraan Indonesia boleh dibilang memasuki awan kelam nan kelabu. Setiap hari disuguhkan moral yang terdegrasi bahkan dibilang terpuruknya moral para pemangku jabatan di negeri ini. Memasuki 66 tahun kelangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara keadaan yang semakin runyam masih melilit bahkan nyaris terjerembab di keterpurukan .  Negeri ini yang tertatih tatih melangkah  mencoba berdiri tegak, mendongkakkan wajah dari deraan persoalan yang ditanggungnya.

1. Korupsi Rame-rame. Penyakit akut inilah yang paling banyak menguras energi bangsa ini. Pemberitahuannya hampir masif dan tidak kunjung selesai dan memakukan pesan bahwa itu hal yang biasa di negeri ini. Tidak tanggung keterlibatan para pemangku jawatan publik dari Gubernur, Bupati dan Walikota sangat ikut terbawa arus pusaran korupsi. Kemudian keterlibatan para  politisi anggota DPR pusat, DPR Dati I dan II sungguh diluar dugaan seakan mengokohkan tiada lagi hari esok untuk korupsi. Bahkan Kementerian ikut meramaikan suasana panas uang komisi proyek. Ditimpali lagi dengan lembaga pemerintah lainnya, tiada gentar berbuat tindakan tidak terpuji itu. Kondisi ini apakah Indonesia masih bermartabat di pergaulan international?

2.  Penegakan Hukum Yang Loyo. Negeri seakan tidak punya pemerintahan dengan penegakan hukum dan keadilan yang dijalankan. Seperti sudah sistematik kasus yang berkembang ditutupi dengan kasus baru. Skandal kasus besar yang telah direkomendasikan DPR pun seperti Bank Century hilang menguap begitu saja. Demikian juga makelar pajak  beserta ’geng’nya vonisnya tidak mencerminkan rasa keadilan. Pemalsuan Surat MK. Dan masih hangat lagi Mr. Nazar yang seakan tidak mampu di jangkau oleh penegak hukum. Namun seperti kasus Prita Mulyasari dan Lita Argasari ketegasan hukum sungguh alot dijalankan.  Apakah hukum hanya berlaku untuk wong cilik?

3.  TKI yang bermasalah.  Ketika Arab Saudi  menghukum pancung mbak Ruyati TKI yang bekerja sebagai PRT. Indonesia dibuat tersentak. Semuanya saling menyalahkan. Kasus para pekerja di luar negeri sudah marak pemberitahuan sebelumnya tapi negeri ini seakan tutup mata dengan hal itu semua. Ketidak mampuan pengelola negara menyediakan lapangan pekerjaan di negeri sendiri memaksa TKI migran ke Malaysia, Timur Tengah dan Timur Jauh.  TKI di Malaysia mereka hanya bekerja sebagai buruh di perkebunan dengan upah 2 kali UMR, padahal perkebunan di Indonesia begitu luas, luasnya hampir sama dengan Malaysia. TKW di Timur Tengah bekerja sebagai PRT hanya dianggap sebagai ’slaves’. Negeri ini tidak berdaya menyediakan lapangan pekerjaan bagi rakyatnya dengan sumber daya alamnya yang melimpah. Citra negeri ini pun terkena stigma 'negara pembantu'.

Itulah wajah Indonesia Raya yang lagi kuyu. Merayakan HUT ke 66. Apakah ini angka mujur atau tidak itu tidak perlu. Wajah kuyu itu semoga saja tidak berantakan.  Indonesia Tanah Air Beta. Semoga citramu terpancar jelas. Merah Putih. Bukan abu abu apalagi hitam kelam.

Selasa, 12 Juli 2011

Sekolah Favorite Tidak Tembus. Apa Kata Dunia?

Setelah selesai liburan semesteran. Kemacetan kembali mendera ibukota. Kegiatan sekolah mulai lagi. Siswa baru di sekolah baru mulai mulai bersosialiasi dengan teman baru, beradaptasi dengan lingkungan baru. Gelak tawa canda ria mewarnai sosialisasi mereka. Bangga dapat diterima disekolah Favorite yang peminatnya berjibun.

Siswa yang diterima disekolah tersebut masih menyisakan tanda tanya. Mereka masuk disana apakah sesuai dengan keinginan mereka atau keinginan orang tua? Bila jawaban itu atas keinginan mereka permasalahan tidak ada, bila atas arahan orang tua harus ke Sekolah Favorite ini yang menjadi problem. 

Orang tua memang selalu menginkan anaknya dapat pengajaran yang baik, dimana sekolahnya punya reputasi baik dengan sederatan penghargaan. Kebanggan tersendiri bila anak bagian dari sekolah tersebut. Manusiawi toh.

Bagi Siswa yang tidak berpeluang mendapat jatah di sekolah Favorite karena keterbatasan nilai. Coba berfikir jernih dan menelah sedikit bila nyangkut di Sekolah Non Favorite.

1.    Ranking 11 Keatas - Non Prestasi.

Berkumpulnya Siswa bernilai Unggul di sekolah Favorite dari berbagai latar belakang  sumber sekolah yang berbeda tentu kandungan qualitas berbeda. Waktu yang menentukan murid dari sumber sekolah mana yang menonjol dan berkembang. Hasil pencapaian pendahuluan ini akan terlihat di semester pertama. Ketika menerima catatan nilai (rapor) walaupun nilai rata rata tinggi dan Lumayan bila diluar Ranking 10 sama saja Non berPrestasi.  Inilah yang membuat tertekan.

Disekolah Non Favorite dengan berprestasi Sedang dikumpulan berprestasi Paspasan Rangking 10 besar merupakan prestasi yang besar. Hal ini akan melecut Motivasi dan memantapkan Kepercayaan Diri.

2.    Team yang Rapuh.

Kerjasama dari siswa bernilai Unggul sering mengalami kegoyahan. Individu akan saling bersaing menggolkan keakuannya. Setiap pertanyaan yang diajukan oleh anggota kelompok kepada ketua team maupun panelis dianggap menguji kemampuan.  Panelis yang memberikan keterangan kepada angggota  seakan tidak mendengarkan karena merasa gengsi.

Disekolah Non Favorite. Bahwa yang berprestasi Paspasan meminta keterangan jawaban kepada Ketua Team yang berprestasi Sedang akan memberikan jawaban yang tepat karena yang meminta sifatnya tulus dan ingin mengetahui. Maka kerja team lebih kokoh dan kompak.

3.    Komunikasi yang tersendat.

Dikumpulan siswa bernilai unggul berkomunikasi secara lisan kurang mengalir.  Karena keengganan meminta dan menerima keterangan. Memuaskan keingin tahuan adalah dengan membaca berbagai literatur ataupun browsing internet. Alhasil untuk berkomunikasi lisan sering tersendat pilu.

Disekolah Non Favorite keadaan siswa yang senasib komunikasi lisan mereka lebih lancar karena permintaan yang tulus terhadap ketidak tahuan, tidak enggan meminta dan si Siswa Sedang akan mengajar mereka dengan senang hati. Komunikasi akan mengalir dengan adanya sesi tersebut

Apa yang dapat dipetik dari keterangan tersebut bahwa Siswa berprestasi Sedang akan lebih Bersemangat, lebih Percaya Diri, lebih Anteng daripada Siswa berprestasi Unggul di Sekolah Favorite walapun di Ranking Pertama. Wajah lebih berseri tidak tertekan kompetisi dengan atribut ke ’unggulan’.

Wah ini tulisan ada ada, ngaco, main benarkan aja. Hanya pelipur lara doang. Lalu apa kata Siswa Sekolah Favorite pasti bilang ’ Iri Tanda Tak Mampu; Sadar Oi. Biarkan saja, itu Bukan Kata Dunia. Waktu yang menentukan.

Tidakkan lebih baik jadi Kapten di lingkungan kopral Kecamatan daripada Brig–May-Let-Jen di Mabes. Disana masih ada Jenderal. Betul.Betul.Betul.