Selasa, 12 Juli 2011

Sekolah Favorite Tidak Tembus. Apa Kata Dunia?

Setelah selesai liburan semesteran. Kemacetan kembali mendera ibukota. Kegiatan sekolah mulai lagi. Siswa baru di sekolah baru mulai mulai bersosialiasi dengan teman baru, beradaptasi dengan lingkungan baru. Gelak tawa canda ria mewarnai sosialisasi mereka. Bangga dapat diterima disekolah Favorite yang peminatnya berjibun.

Siswa yang diterima disekolah tersebut masih menyisakan tanda tanya. Mereka masuk disana apakah sesuai dengan keinginan mereka atau keinginan orang tua? Bila jawaban itu atas keinginan mereka permasalahan tidak ada, bila atas arahan orang tua harus ke Sekolah Favorite ini yang menjadi problem. 

Orang tua memang selalu menginkan anaknya dapat pengajaran yang baik, dimana sekolahnya punya reputasi baik dengan sederatan penghargaan. Kebanggan tersendiri bila anak bagian dari sekolah tersebut. Manusiawi toh.

Bagi Siswa yang tidak berpeluang mendapat jatah di sekolah Favorite karena keterbatasan nilai. Coba berfikir jernih dan menelah sedikit bila nyangkut di Sekolah Non Favorite.

1.    Ranking 11 Keatas - Non Prestasi.

Berkumpulnya Siswa bernilai Unggul di sekolah Favorite dari berbagai latar belakang  sumber sekolah yang berbeda tentu kandungan qualitas berbeda. Waktu yang menentukan murid dari sumber sekolah mana yang menonjol dan berkembang. Hasil pencapaian pendahuluan ini akan terlihat di semester pertama. Ketika menerima catatan nilai (rapor) walaupun nilai rata rata tinggi dan Lumayan bila diluar Ranking 10 sama saja Non berPrestasi.  Inilah yang membuat tertekan.

Disekolah Non Favorite dengan berprestasi Sedang dikumpulan berprestasi Paspasan Rangking 10 besar merupakan prestasi yang besar. Hal ini akan melecut Motivasi dan memantapkan Kepercayaan Diri.

2.    Team yang Rapuh.

Kerjasama dari siswa bernilai Unggul sering mengalami kegoyahan. Individu akan saling bersaing menggolkan keakuannya. Setiap pertanyaan yang diajukan oleh anggota kelompok kepada ketua team maupun panelis dianggap menguji kemampuan.  Panelis yang memberikan keterangan kepada angggota  seakan tidak mendengarkan karena merasa gengsi.

Disekolah Non Favorite. Bahwa yang berprestasi Paspasan meminta keterangan jawaban kepada Ketua Team yang berprestasi Sedang akan memberikan jawaban yang tepat karena yang meminta sifatnya tulus dan ingin mengetahui. Maka kerja team lebih kokoh dan kompak.

3.    Komunikasi yang tersendat.

Dikumpulan siswa bernilai unggul berkomunikasi secara lisan kurang mengalir.  Karena keengganan meminta dan menerima keterangan. Memuaskan keingin tahuan adalah dengan membaca berbagai literatur ataupun browsing internet. Alhasil untuk berkomunikasi lisan sering tersendat pilu.

Disekolah Non Favorite keadaan siswa yang senasib komunikasi lisan mereka lebih lancar karena permintaan yang tulus terhadap ketidak tahuan, tidak enggan meminta dan si Siswa Sedang akan mengajar mereka dengan senang hati. Komunikasi akan mengalir dengan adanya sesi tersebut

Apa yang dapat dipetik dari keterangan tersebut bahwa Siswa berprestasi Sedang akan lebih Bersemangat, lebih Percaya Diri, lebih Anteng daripada Siswa berprestasi Unggul di Sekolah Favorite walapun di Ranking Pertama. Wajah lebih berseri tidak tertekan kompetisi dengan atribut ke ’unggulan’.

Wah ini tulisan ada ada, ngaco, main benarkan aja. Hanya pelipur lara doang. Lalu apa kata Siswa Sekolah Favorite pasti bilang ’ Iri Tanda Tak Mampu; Sadar Oi. Biarkan saja, itu Bukan Kata Dunia. Waktu yang menentukan.

Tidakkan lebih baik jadi Kapten di lingkungan kopral Kecamatan daripada Brig–May-Let-Jen di Mabes. Disana masih ada Jenderal. Betul.Betul.Betul.

Sabtu, 02 Juli 2011

TKW. Apalagi yang dicari…???

Ketika Arab Saudi  menghukum pancung mbak Ruyati TKI yang bekerja sebagai PRT,  Indonesia terbangun dari tidur panjangnya. Negeri ini gagal memberikan advokasi kepada pesakitan tersebut. Kasus TKW berprofesi sebagai PRT di LN sangat rentan terhadap aksi kekerasan. Kasus ini seakan memaparkan bahwa kejadian yang menimpa PRT sudah merupakan kulminasi dari kejadian yang menimpa PRT masa masa sebelumnya.

Tahun tahun terakhir ini kejadian yang menimpa PRT tersebut sering membuat miris dengan pemberitahuan berikut.

1. Penyiksaan TKW di Saudi: Majikan Potong Bibir Sumiati,

2. Penyiksaan TKW di Saudi, Retno, Pulang Tak Digaji dan Nyaris Lumpuh

3. Penyiksaan TKW di Malaysia, Penyiksaan Siti Hajar sangat Kejam

4. Puluhan TKW Arab Saudi Pulang Dalam Kondisi Hamil

5. TKW Yornania,  Korban Perkosaan, Kini Hamil 9 Bulan

6. TKW Lagi TKW Meninggal Misterius di Malaysia

7. Lagi, TKW Meninggal di Arab Saudi Diduga Dibunuh Majikan.

Dan masih banyak lagi korban korban yang lain.

Dengan banyaknya peristiwa tersebut perlindungan terhadap TKW ini seakan tidak menyertai mereka. Negeri sering menyatakan bahwa mereka adalah pahlawan devisa. Sebutan itu terlalu fantatis dan tidak perlu lagi. Jaminan perlindungan itu yang dibutuhkan. Semoga saja Sumartini masih bisa dibebaskan hari Hukuman Pancung

Kebijakan yang terlambat akhirnya pemerintah mengeluarkan motorium yakni penghentian sementara pegiriman TKI ke negara bermasalah. Bila kebijakan itu sudah ditetapkan pemerintah seharus memikirkan lowongan pekerjaan terhadap mereka. Jika tidak, bepergian ke Timur Tengah akan menjadi tujuan utama dengan berbagai cara. Para PRT tidak usah khawatir

1. Peluang Di Dalam Negeri. Banyaknya migran PRT ini ke luar negeri, akhir akhir ini di kota besar di Indonesia sudah mulai terjadi kelangkaan PRT. Permintaan terhadap mereka tenaga mereka sangat tinggi dan peluang ini seharusnya dapat dimanfaatkan yang terhenti kontraknya akibat motorium tersebut

2. Upah Sudah Mendekati UMR. Penghasilan sebagai PRT sekarang ini sudah mendekati UMR dan itu sangat lebih baik dari karyawan yang kerja di Industri. Karena mereka tidak memikirkan tempat nginap dan makan. Jika yang dikatakan JK: Gaji TKI di Arab Saudi Nyaris Sama dengan UMR. Lalu untuk apa lagi Migran?

3. Undang-undang tentang Pembantu Rumah Tangga. Rancangan UU sudah diusulkan ke DPR semoga saja perwakilan rakyat kita itu dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik. Dengan adanya itu maka perlindungan terhadap PRT terutama dalam negeri semakin terjamin. Semoga RUU menjadi UU.

Dengan peluang yang tiga itu. Apalagi yang dicari di luar negeri...??? Semoga saja tidak cepat lupa dengan berbagai kejadian tersebut